Laras

by lizamaulida

 

1

 

 

Aku memandang keluar jendela, cahaya matahari menyilaukan pandanganku yang masuk melalui jendela-jendela yang tinggi dan besar terbuat dari ukiran kayu mahoni yang sengaja dibuka lebar. Udara segar dan aroma bunga mawar yang sedang bermekaran menyambutku dengan keindahannya. Aku berjalan keluar rumah menuruni tangga kecil yang terbuat dari batu. Tak jauh dari rumahku terlihat para wanita yang bersiap-siap menuju pasar untuk menjual hasil panen mereka. Mereka membawa apa saja yang bisa mereka jual di pasar dengan menggendong sekeranjang penuh sayuran dan buah-buahan. Lalu ada anak-anak berseragam sekolah yang berlarian penuh semangat menuju sekolah mereka. Sementara aku dan gadis-gadis lainnya yang sebaya denganku sedang bersiap-siap ke kota, tujuan kami sama yaitu menuju rumah madam Rose.

Hari ini usiaku genap 15 tahun. Setiap orang tua di desa ini akan mengirimkan anak gadis mereka yang sudah berumur 15 tahun untuk diserahkan kepada madam Rose. yah, diserahkan, tapi bagiku lebih pantas disebut “dijual”.

Ketika aku kecil, aku selalu bertanya pada ibu, apakah saat usiaku 15 tahun nanti ibuku akan menjualku pada orang asing yang selalu disebut-sebut namanya dan dihormati oleh semua orang di desa ini, seperti ibu lainnya yang menjual anak gadis mereka. Ibuku berkata “ya, jika kau tidak ingin masa tuamu kau habiskan untuk bertani dan setiap hari kau harus memikul beban berat di panggulmu untuk menjual hasil panenmu ke pasar. Ya, jika kau tak ingin kulitmu menjadi kusam dan keriput disaat usiamu masih 30 tahun. Maka aku dengan senang hati akan menyerahkanmu kepada madam Rose” .

Tentu diusiaku yang sangat kecil, perkataan ibu bukanlah suatu pilihan yang perlu kupertimbangkan secara matang. Aku hanya berharap ibu tidak menjualku, sehingga aku bisa tetap bersekolah sampai usiaku mencapai 30 tahun atau lebih. Aku hanya ingin sekolah. Itu yang ada dipikiranku saat aku masih duduk di sekolah dasar.

Saat kami sedang bersiap menaiki kereta, aku melihat segerombolan pria berpakaian seragam. Mereka menaiki  kereta yang sama dengan kami. Tapi tujuan kita berbeda, aku tau pria-pria itu pasti sedang bersiap menuju sekolah militer mereka. Dan aku pun menuju “sekolahku”. Sekolah yang akan mengubah hidupku dan hidup perempuan lainnya.

Jika ada pepatah mengatakan bahwa, hidupmu adalah tinta yang kau tulis di atas kertas kosong, hidup adalah pilihan yang kau tulis sendiri. Tapi pepatah itu tak berlaku bagi gadis berusia 15 tahun sepertiku, hidupku adalah sebuah buku yang sudah kupunya sejak lahir. Segala sesuatunya telah tertulis dalam buku itu, tanpa bisa aku merubahnya sedikitpun.

Tapi yang kulihat di wajah gadis lain adalah sebuah impian, sebuah optimisme yang seolah-olah mereka bisa melihat masa depan mereka. Bukan, bukan seperti ini yang kuharapkan.


bersambung…